 Setiap yang pergi pasti ada penganti, akhirnya aku menyadari kamu tercipta bukan untuk aku .kesempurnaan cinta yang slama ini kamu berikan cukup membuat aku terkenang dalam hayal dan lamunan .aku yang masih berharap akan berada disisimu lagi rasanya tak mungkin . Dan kini dia yang datang aku juga tak kuasa untuk menolaknya ,dia datang begitu tiba-tiba tanpa ada rencana .mungkin aku tlah jatuh cinta tapi aku berusaha untuk melawan rasa ini , karena takut aku mencoba untuk mundur sekedar mengambil nafas panjang dan sembari berfikir . dia dengan segala kesederhanaan dan ketulusan serta kesabaran sebenarnya membuat aku berfikir lain .tapi ini menyangkut sebuah rasa yang sulit untuk aku melupakan sesuatu yang telah ditanamkan seseorang kepadaku . dan itu yang membuat aku tak bisa berada disisi dia. Maafkanlah aku Sebenarnya kalau aku masih boleh jujur . berada disisi dia hari-hari terasa menyenangkan didekat dia serasa nafasku tinggal setengah , aku tak sanggup untuk berkata karena rasa kagum . dan setiap dia tak ada aku merasa kehilangan ,entahlah perasaanku ini telah membuatku binggung . aku merasa tak pantas berada disisi dia, seharusnya aku jauh dan mulai menghapus semua . sekali lagi maafkahlah aku Yang kini ingin aku lakukan Cuma satu Mengejar cinta yang hakiki dimana cinta itu tak akan ada yang disakiti maupun tersakiti .
Kembali cinta kepada – MU Sesunguhnya aku percaya akan kekuasaan MU Hidup ,mati,jodoh sekalipun sudah ada dalam genggaman MU Seharusnya aku percaya akan pilihan yang telah ENGKAU berikan Tapi mengapa aku masih memilih yang nyata dihadapanku Diantara keraguan aku berjalan ,ingin aku menata hati Agar aku dapat berserah diri ,menerima apa yang telah menjadi pilihan MU Maka dari itu izinkanlah hamba menguntai do’a Ya rabb Jika benar aku telah jatuh cinta Cintakanlah aku pada seseorang yang selalu mencintai MU Ya rabb Jika benar aku telah rindu Maka jagalahlah rinduku kepadanya agar tidak lalai aku merindukan MU Agar dia dapat membawaku bersujud dihadap MU Ya rabb jika benar aku tlah jatuh hati Maka jagalah hatiku padanya agar tidak berpaling dari Kokohkanlah ikatannya Kekalkanlah cintanya Tunjukilah hati-hati ini dengan cahaya MU yang tiada pernah pudar
Hidup adalah mempersembahkan yang bermakna bagi dunia dan berarti bagi akhirat
CINTAKANLAH AKU SELALU KEPADA-MU
  Malam ini badan rasanya capek ,mata terasa berat ditambah lagi sebuah pesan yang kubaca membuat aku kecewa,hati ini serasa terombang-ambing ,ingin sekali menangis, tapi didepan ku banyak kerjaan yang udah menumpuk lengkap sudah penderitaan malam ini pikirku .mata terpana didepan computer tapi pikiran jauh kesana sambil jemariku terus berlarian diatas keyboard seiring hati yang tak tentu arah. tak ku hiraukan lagi kerjaan terus kukerjakan tanpa konsentrasi .diiringi lagu yang mengerti perasaanku malam ini, tak tetahankan lagi bulir-bulir air mata jatuh tanpa aku sadari .
Teringat wajah seorang teman yang slalu disampingku bila aku terjatuh,”maafkan aku kak ,,,”,harusnya kudengarkan kata-katamu . bukan aku yang terbaik bagi dia tapi ada yang lebih baek lagi dari pada aku.memang aku tak pantas berada di samping dia .kenapa ku sadari baru sekarang kenapa gak dari dulu ,mungkin keputusan ini memang yang terbaik .aku tak dapat memaksa dia untuk ada dihatiku , selama ini memang semu adanya tapi bagiku rasanya nyata
Begitu banyak senyum yang kudapat dari dia,bersama dia kurasa masih panjang perjalanan hidup ini,terima kasih karena dia aku tau banyak hal ,mengerti arti hidup yang sesungguhnya.aku bahagia bila dia bahagia bersama nya .moga keputusan ini membawa hikmah untuk semua .
Mungkin rasa ini akan hilang seiring berganti nya waktu .meski hati udah hancur sebisa mungkin ku tata kembali menjadi hati yang utuh yang seperti dulu lagi .satu yang ku minta jangan memintaku melupakan semua nya ,karena semua ini sudah menjadi bagian dari hati kecilku .
ini semua jawaban dari sebuah pejalanan panjang,ketika semua nya harus berakhir maka akhirilah ini dengan indah
  Minggu ceria
Untuk melepas lelah ,penat,capek selama seminggu masuk kerja .hari ini bersama anak-anak yang agak kurang waras kali yach.kami semua sepakat untuk naik bukit yang berada dekat rumah kami,(dasar kurang kerjaan ) semua wajib bangun pagi ,gak ada yang boleh telat bangun .ternyata jam 7.30 anak-anak sudah siap semuanya wah on time lho,,,
Persiapan yang harus di bawa pun juga dah siap semuanya ,mulai dari gitar,kodak yang pasti untuk ceprat-cepret sana sini dong ,makan dan minum gak ketinggalan . mulailah kami melewati celah kecil ,merangkak macem tahanan aja tapi semua nya tetep tersenyum dan tetep semangat .tapi perjalanan masih panjang ,kami harus terus naik-naik untuk sampai puncak bukit .
Kami lewat juga padang rumput yang hijau,masuk hutan yang penuh dengan alang-alang ,kami semua juga sempat mengeluh karena capek .melihat keatas awan mendung yang gelap ,tanda hari akan hujan nech.tetep aja semangat dasar anak –anak kurang waras ,sambil nyanyi-nyanyi “naik-naik kepuncak bukit tinggi-tinggi sekali “tak peduli akan cuaca yang mencemaskan .teruslah kami naik jalan yang penuh bebatuan yang tajam yang sempat kena salah seorang temen sampai kaki nya berdarah baru disadari lupa tidak membawa P3K ,walah kok iso lali piye tho mba’ mba’,,,,,
Dengan penuh perjuangan sampai lah pada puncak bukit,semuanya menghela nafas yang tinggal separuh itu.kami menikmati pemandangan dari puncak ,”ternyata bagus ,indah juga yang “ semua PT yang ada dikawasan muka kuning pun terlihat berderet kayak semut .udara yang segar yang selama ini tak pernah kami rasakan , karena kesibukan kami sebagai karyawan-karyawati sebuah PT,tak lama kami menikmati semua itu hujan turun dengan derasnya ,kami semua sibuk mecari tempat untuk berteduh .tapi hanya sia-sia belaka karena tak ada tempat untuk berteduh .dengan harapan moga hujan cepat redah kamipun tetep berdiri diatas bukit diterpa hujan yang semakin derasnya
Ternyata begitu lama hujan juga tak kunjung berhenti ,kami memutuskan untuk turun .wajah kami semua pucat karena kedingingan dan mengigil .gitar yang dibawa belum sempat kami main kan dipuncak bukit,Kodak yang dibawa belum sempat untuk berfoto-foto,bekal belum sempat kami makan (padahal udah kelaparan semua,,,),kamipun turun bukit dalam keadaan hujan yang makin derasnya,jalan terjal dan licin kami telusurin namum kami tak kuat menahan hujan ,masuklah kami kedalam hutan mungkin akan lebih aman dari serangan hujan pikir kami.Ternyata sama aja ,,,, hujan juga belum berhenti kami meneruskan perjalanan pulang , pada sebuah jalan turun yang harus kami lewati disitu jalan yang paling rawan,licin dan takut jatuh ,kami semua berderet dan berpegangan satu sama lain ,rasa persaudaran muncul seketika . saling tolong-menolong satu dengan yang lain .
Setelah melewati perjalananan panjang kami pun tiba di rumah ,juga dengan nafas yang tinggal separuh (untunglah kami semua masih hidup dengan nafas yang tinggal separuh-separuh itu yach ,,,,,)dan ternyata sesampai dirumah hujan berherti .dasar sial ,apes kali yach .lupa gak berdoa pas berangkat ,yach kayak ini lah kejadian nya .
Dalam keadaan basah kuyup kami pun menyantap makanan yang dari tadi Cuma dibawa naik ,turun .sambil merenunggi kejadian yang baru saja dialami
Dari situ kami ambil hikmahnya ,indahnya kebersamaan,rasa persahabatan ,peduli akan sesama ,dan kesabaran .”kalau tidak bisa hari ini mungkin masih ada hari esok”
“Perjalanan singkat yang diiringi hati putus asa ,rasa kecewa yang aku rasakan.
Thank’s buat temen-temen semua tanpa aku sadari kalian membawa aku untuk kembali tersenyum, hidup ini masih panjang ,jangan berhenti sampai disini karena
Putus cinta ,”
  Cinta Laki-laki Biasa...
Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok kebelakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang: Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.
"Kenapa?" tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.
Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon 25 watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yang barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!
Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detail dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap. Yang pertama terjadi 3 bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania anggap sebagai momen yang tepat, karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.
"Kamu pasti bercanda!"
Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga dan terakhir dari papa dan mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda.
"Nania serius!" tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang melamarnya.
"Tidak ada yang lucu," suara papa tegas. "papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak papa yang paling cantik!"
Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat papa barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan.
"Nania cuma mau Rafli," sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak.
Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekedar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.
"Tapi kenapa?"
Sebab Rafli cuman laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa.
Sementara kamu, sebentar lagi meraih gelar insinyur. Bakatmu yang lainpun luar biasa.
Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.
"Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!"
Cukup!
Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?
Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli. Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak 'luar biasa'. Nania cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia.
Mereka akhirnya menikah.
***
Setahun pernikahan.
Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak dimata mereka.
Nania hanya merasakan cinta yang begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia.
"Tak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania."
Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.
Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.
"Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu!" "Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar!" "Betul, kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!"
Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.
Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.
Tapi Rafli juga tidak jelek, kak!
Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?
Rafli juga pintar!
Tidak sepintarmu, Nania.
Rafli juga sukses, pekerjaaannya lumayan.
Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.
Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak. Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.
Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki sepasang orang anak. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang.
"Tak apa," kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri.
"Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Mas."
Nania tidak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik.
"Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya?"
Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah.
Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!
Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania.
Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.
Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak.
Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang di kantor, tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik papa dan mama.
Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.
Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.
***
Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya.
"Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera dikeluarkan!"
Mula-mula dokter kandungan Nania memasukkan sejenis obat kedalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semua normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.
Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi dan menunaikan shalat disisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang.
Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga nenit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali.
"Baru pembukaan satu." "Belum ada perubahan, bu." "Sudah bertambah sedikit,"kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan. "Sekarang pembukaan satu lebih sedikit."
Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.
Tiga puluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset.
"Masih pembukaan dua, pak!"
Rafli tercengang. Cemas tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.
"Mas?"
Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan.
"Dokter?"
"Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar."
Mungkin?
Rafli dan Nia berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu? bagaimana jika terlambat?
Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak kuasa merasa sendiri dari awal.
Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruang serba putih. sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.
Kepanikan ada diudara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.
Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.
"Pendarahan hebat."
Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah. Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah!
Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.
Mama Nania yang baru tiba, menangis, papa termangu lama sekali. Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka.
Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercengung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa di hentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.
Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.
***
Setelah seminggu lebih Nania koma, selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarga yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuta, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah boleh membawanya pulang.
Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukur pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.
Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang berbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra.
Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.
"Nania, bangun, cinta?
Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik.
Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari, mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania dan membacakannya dengan suara pelan. Sambil tak bosan-bosannya berbisik,
"Nania, bangun, cinta?"
Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya dimata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli. Diluar itu Rafli tak memerdulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.
Ia ingin melihat Nania lagi, gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain diwajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.
Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama di tangkap matanya.
Seakan telah begitu lama Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapnya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh.
Asalka Nania sadar, semua tak penting lagi.
Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.
Ketika malam Rafli mendandani Nania agar terlihat cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?
Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu menyaksikan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli.
setiap hari minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton di bioskop, reaksi ke manapun Nania harus ikut.
Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania kesana kemari. Masih dengan senyum hangat diantara wajahnya yang bermanik keringat.
Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh semua berbisik-bisik.
"Baik banget suaminya!" "Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!" "Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya." "Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandangnya dengan penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!"
Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, papa dan mama.
Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustasi, merasa tak berani, merasa?
Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?
Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.
Ya, Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semuanya, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah yang besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri, meski tubuhnya tak berfungsi sempurna, meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya.
Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.

| |